"Rul, punya shalawatan nggak?" tanya Somat sambil menenteng DVD player.
"Ada di flashdisk. Mau buat apa?" jawab Barul sembari merapikan buku yang berantakan di rak.
"Ngumpulin anak-anak, masak jam segini belum muncul." Somat masuk kedalam masjid dan mulai mengotak-atik DVD yang dibawanya. "Flash-nya dimana?"
"Ambil aja di tas bagian depan! Aku sibuk nih," jawab Barul sedikit menaikkan suaranya.
Sekitar 7 menit shalawatan diputar, Rio datang dengan sedikit berlari. "Matiin woy!! Dilarang sama negara tau!" Rio menunjuk-nunjuk ke arah Somat yang berada di depan DVD.
"Kapan?! Kenapa?" Barul menghentikan pekerjaannya dan berbalik ke arah Rio.
"Makanya, kalo punya TV itu dipakai buat liat berita. Bukan cuma liat tontonan nggak bermutu. Padahal itu berita udah lama, masih nggak tau aja," sindir Rio.
"Terus, gimana sama yang konser gede gitu! Kalo cuma ginian aja paling cuma tetangga sekitar yang denger. Kalo konser gitu kan sampai luar kota kedengeran," Barul mengeluarkan argumen setelah sindiran Rio menusuk hati.
"Jangan lebay deh! Masak luar kota juga," Rio menjawab sambil menaruh tas di atas meja kecil yang ada di pojok.
"Kamu aja yang nggak mikir, yang nonton kan nggak cuma dari daerah itu aja. Pasti luar kota bahkan luar pulau juga. Tapi nggak dimarahi tuh!" Barul masih sensitif karena omongan Rio.
"Sttss... sttss..., pak ustadz dateng." Somat menunjuk-nunjuk ke arah pak ustadz yang sedang berjalan.
Mereka pun kembali fokus pada pekerjaan mereka. Meskipun masih terlihat ketegangan antara Rio dan Barul.
18.51
Jum'at - 11 September 2015